Selamat Jalan Rafael Benitez

Jika manager atau pemain hebat diibaratkan sebagai raja. Hakikat mereka adalah datang bertahta untuk suatu rentang masa, kemudian digantikan raja yang lain. Legenda yang terbit, dibuat berdasarkan kisah kejayaan dan penaklukan yang dicapai sang raja untuk rakyatnya.

So the fans can see better

Sampai saat ini, Liverpool FC sudah melewati masa beberapa orang raja. Baik dari sisi pemain ataupun manager. Untuk yang kategori terakhir, kita sudah melewati masa mangkatnya Bill Shankly, Bob Paisley dan Kenny Dalglish.

Dan Juni ini, kita melewati masa satu raja lagi. Rafael Benitez.

Sebagai penghormatan, entry pertama di kopmerah ini dipersembahkan untuk orang yang jadi enigma di Liverpool FC. Pria yang membelah opini kita menjadi dua kubu yang sedemikian panas antara pro dan kontra.

Sosok yang membawa LFC menjadi nomor satu dan disegani di Eropa. Membawa gelar Liga Champion kelima, dengan salah satu pertandingan final terbaik sepanjang masa di Istanbul.

Gelar kelima yang membuat kita bisa membalas kepalan tangan lawan dengan acungan lima jari ke mereka dan berteriak lantang “WE WON IT FIVE TIMES!”.

Siapa bakal lupa pertandingan di Old Trafford di mana LFC membuat MU seperti tim calon degradasi? Dominasi Setan Merah dihancurkan (manis sekali bukan, 4-1?). Menjungkalkan JoMo di dua semi final Champions. Menunjukkan ke Los Galacticos, Real Madrid siapa sebenarnya raja Eropa. Atau taktik yang membungkam daya dobrak Barcelona yang menggetarkan Eropa?

Pria dengan humor renyah terselubung, yang obsesinya pada detil dan sepak bola, mungkin hanya bisa disamai cintanya pada keluarga dan klub.

Meski jadi raja, bukan berarti tanpa cela,. Memang di beberapa kesempatan, taktiknya layak untuk dipertanyakan. Pertandingan saat LFC ditumbangkan Burnley dan Reading di ajang piala FA. Pergantian pemain yang membingungkan ketika pertandingan butuh alur yang berbeda. Demikian pula dengan keputusannya pada beberapa transfer pemain.

Mungkin argumen para kritik bahwa Rafa tidak menggunakan dana transfernya secara bijak bisa jadi benar. Tapi tunjuk ke gue satu manager yang ga pernah gagal di transfer pemain?  Alex Ferguson – Juan Veron, Kleberson. Jose Mourinho – Shevchenko. Oh, jangan mulai dengan Harry Redknapp, dia beli Keane hanya buat dicadangkan lalu dibuang ke Scotland.

Lantas, kenapa di Rafa bisa jadi masalah sedemikian besar? Karena dia tidak diberi cukup dana segar untuk menutup celah yang ada jika pemain gagal memenuhi harapan. Tidak seperti klub lain, yang membeli untuk memperkuat, Rafa harus menjual sebelum membeli, atau beli buat menambal. LFC tidak punya pemain bergaji tinggi dan berharga 30 juta Poundsterling duduk di bangku cadangan.

Sekilas illustrasi belanja Benitez selama menangani LFC:

Total Pemain Dibeli: £228,976,000
Total Pemain Dijual: £145,100,000
Total Belanja Bersih: £83,876,000

Dengan total belanja bersih hanya 83 Juta £, atau rata-rata 16.6 Juta £ per tahun (yang jauh lebih kecil dibandingkan kompetitornya), Rafa jauh dari label pedagang yang buruk bukan?

Pun ada juga label bahwa Benitez adalah manager yang tidak mempunyai hubungan baik dengan pemainnya. Di artikel Four Four Two Indonesia edisi Striker 2010, Fernando Torres memberi kredit terbesar pada Benitez. Di sana Torres menyatakan bahwa dia bisa jadi sebaik seperti ini karena Rafa. Karena Rafa selalu meminta lebih dan lebih dari pemainnya. Obsesinya pada detail dibuktikan sendiri oleh Torres, termasuk pada hal kecil pada posisi badan ketika akan menendang, atau kaki mana yang bakal digunakan untuk berakselerasi.

Torres mengatakan bahwa mungkin saja dia tidak mencetak gol di sebuah pertandingan, dan justru memang itu tugasnya. Yaitu menarik bek lawan keluar kotak penalti, dan memberi kesempatan pada Steven Gerrard untuk menembak dari ruang yang ditinggalkan.

Di lain kesempatan, Torres justru diomeli karena lalai menjaga lawan, sehingga gawang Pepe Reina kebobolan, padahal di pertandingan itu Torres mencetak tiga gol. Pemain berkostum no.9 inipun mengakui bahwa metode Benitez ini kadang melelahkan, karena tuntutan yang terus menerus. Sehingga mungkin ada beberapa pemain yang jadi bertanya-tanya? Akankah Rafa pernah terpuaskan? Di akhir wawancara, Torres juga menegaskan, dari sedikit saja detail yang diminta Rafa darinya, seringkali ternyata hasilnya benar-benar terlihat. Apalagi jika lebih banyak lagi detail yang bisa diungkapkan?

Juga debat tentang Gerrard yang secara personal jauh dengan Rafa. Omong-omong, sejak ditangani siapa Gerrard jadi gelandang dengan 20 lebih gol per musim? Oh ya, ketika Gerrard ulang tahun yang ke 30 barusan, Rafa menelpon untuk mengucapkan selamat dan berbincang dengannya selama kurang lebih 20 menit. Orang-orang sering lupakan fakta bahwa dia adalah sang Manager, bukan seorang Ayah untuk Gerrard.

Dan jangan mulai lagi soal rotasi pemain, lakukan sedikit riset statistik lewat Google dan lihatlah bawa SAF merotasi pemain lebih sering daripada Benitez. Lucu sekali hanya Benitez yang selalu dihujat masalah rotasi.

Yang gue tulis di atas hanya sekilas argumen balik tentang isu yang selalu ditunjuk oleh mereka yang ingin Benitez keluar. Sekaligus ungkapan kegeraman gue atas perang yang dikobarkan media yang jualan headline. Gue rekomendasikan untuk baca lebih lanjut di links yang gue sediakan di akhir tulisan.

Kwality!

Lepas dari semua pencapaian atau kegagalannya. Inti dari tulisan ini sebenarnya, percayalah, Rafa pergi dengan dasar kecintaannya pada LFC, bukan yang lain. Dia adalah benteng terakhir supporter, karena dia punya kontrol penuh pada transfer pemain di kontrak terakhirnya. Jadi pemain, seperti Torres, Gerrard, Mascherano, Reina sampai Carragher tidak akan dijual tanpa persetujuannya. Dia mau pergi dengan kompensasi yang jauh dari seharusnya, berkisar antara 3-6 Juta Poundsterling dari 16 Juta Poundsterling yang tercantum dalam kontrak.

Di sisi lain, Rafa sadar bahwa satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan LFC adalah pemilik klub baru yang mempunya minat penuh pada klub. Minat untuk memajukannya, dengan berinvestasi secara penuh dan beretika bisnis yang layak. Rafa sadar bahwa siapapun pemilik baru, mungkin punya preferensi berbeda pada manager yang mereka inginkan. Dan kompensasi sebesar 16 Juta Poundsterling mungkin jadi salah satu halangan buat pembeli potensial untuk mengakuisisi LFC.

Sampai dia berhenti, Rafa selalu memutuskan apa yang dinilainya baik untuk para supporter dan klub. Jauh dari keinginan pribadinya. Dia memberikan segala upaya terbaiknya untuk klub.

Jadi, lepas dari masalah sebenarnya di LFC, melihat perlakuan direksi dan pemilik ke Rafa, hati gue belum pernah sesakit ini semenjak kejadian Heysel. Tulisan mengenai masalah sebenarnya dalam LFC akan gue turunkan di entry terpisah.

Sementara itu, gue hanya ingin bilang:

Senor Rafael Benitez. Untuk dedikasi, cinta, usaha, determinasi dan pencapaian yang telah diberikan pada kami dan Liverpool Football Club. Juga untuk keluargamu yang melebur jadi satu di komunitas Merseyside dengan kontribusi yang nyata.

Ucapan terima kasih saja tidak akan pernah mencerminkan rasa syukur gue. Di manapun nanti kau teruskan karir sebagai Manager, klub yang beruntung itu akan punya satu tambahan fans lagi di diri gue.

Mengutip kalimat perpisahanmu “Remember, You’ll Never Walk Alone”

Futher reading:

–    Some Benitez Facts and Records

–   Rafael Benitez True Transfer Spending

–   Conversation with A European Champion

–   Rafa Benitez Net Spend

  • Calendar

    • July 2017
      M T W T F S S
      « Jun    
       12
      3456789
      10111213141516
      17181920212223
      24252627282930
      31  
  • Search