Krisis dan Senja Merah Liverpool

Seperti janji di entry sebelumnya, tulisan ini dimaksudkan buat memberi gambaran realistis tentang krisis yang terjadi di Liverpool FC.

Gue adalah orang yang terbiasa optimis. Tapi jujur gue akan bilang, sulit untuk jadi optimis dengan masa depan Liverpool FC pada saat ini.

Dulu kita dikenal punya kode etik, Liverpool’s Way, di mana semua intrik negatif dalam menjalankan klub, disimpan rapat dalam ruangan direksi jauh dari daya cium media.  Tapi sejak duo Amerika, Tom Hicks dan George Gillet masuk, kultur itu mulai luntur dan diganti dengan drama memalukan, yang membuat sinetron Tersanjung terlihat seperti karya James Cameron.

Hicks: George, lihat lahan penuh uang ini. Gillet: Mantap gan!

Saga ini dimulai usai LFC dikalahkan AC Milan di partai final liga Champion. Sehari setelah final yang menyesakkan itu, Benitez langsung mengungkapkan bahwa squadnya perlu tambahan kekuatan. Dan itu adalah hal yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Dan dari sinilah, kebohongan demi kebohongan terungkap secara perlahan. Bukannya memenuhi janji-janji mereka di awal pembelian. Seperti dukungan penuh uang transfer pemain, atau bahkan realisasi pembangunan stadia baru. Yang kita hadapi sekarang adalah LFC sebagai klub yang terbebani hutang besar.

Sekarang ini mungkin Hicks dan Gillet sedang bersantai sambil menunggu calon pembeli yang cukup nekat untuk menghabiskan 600 Juta Poundsterling untuk membeli klub, dan cukup gila untuk menginvestasikan lebih jauh 300 Juta Poundsterling biaya pembangunan stadia baru.

Para pendukung Liverpool FC, harus mau melihat lebih jernih lagi untuk bisa sadar dan melihat bahwa klub yang kita cintai bukan jadi klub kita lagi. Bahwa masalahnya bukan pada Benitez, tapi pada duo Amerika tersebut.

Faktanya, LFC sekarang hanya jadi sapi perah, yang akan diperas sampai darah terakhir oleh duo pemiliknya. Lupakan omongan mereka bahwa Torres dan Gerrard akan bertahan. LFC adalah klub sepakbola modern di mana dari pemain, manager, fasilitas sampai ke stadia, semua adalah asset klub. Semua ada harganya, bisa dibeli dan dijual. Kalau kalian pikir mereka peduli dengan keberadaan klub, maka kalian salah besar. Ayolah, kalau masih mau percaya, sekalian aja yakinin kalau Didier Drogba tidak pernah diving dan Nani adalah saudara kembar Michael Jackson!

Abaikan omongan manis mereka di media – bahwa mereka mencari pembeli yang peduli dan mampu menunjang kebaikan klub dan para supporter, baik secara moral maupun finansial.  – ketika mereka resmi menyatakan kalau klub dijual.

Duo Amerika Tom Hicks dan George Gillet adalah pebisnis kapitalis sejati. Di mata mereka, klub adalah mesin pencari uang. Harga jual yang mereka mita untuk LFC adalah berkisar antara 600+ Poundsterling, atau tiga sampai empat kali lipat dari harga yang ketika mereka membeli dari David Moores.

Dengan perpanjangan tenggat pembayaran sampai Desember 2010. Jumlah hutang LFC pada bank Royal Bank of Scotland and Wachovia adalah sekitar 351.4 Juta Poundsterling.  Jika perkembangan terakhir yang menyatakan bahwa level hutang sudah dikurangi menjadi 237 Juta Poundsterling, maka memang ada sedikit perbaikan, tapi tidak menutup jumlah yang besar.

Mari kita lanjut dengan proses penjualan. Melihat krisis finansial global yang sedang dialami dunia saat ini. Memakai logika sederhana saja, dengan harga jual selangit, pembeli mana yang mau mengambil resiko? (600 Juta Untuk Pembelian + 300 Juta untuk biaya pembuatan stadia baru)

Untuk mengatasi hutang pada Bank, ada metode yang bisa dilakukan untuk mencari dana segar sebagai pembayaran. Kalau tidak mampu rogoh kantong sendiri, maka dicari pinjaman (alias gali lubang tutup lubang), dana bisa dicari dengan cara penjualan asset. Tentunya, termasuk penjualan pemain. Mari kita tengok ke Spanyol, tepatnya di Valencia. Dengan hutang klub yang tinggi (sekitar 700 Juta Poundsterling), mereka terpaksa untuk menjual pemain bintangnya. Terakhir adalah David Villa ke Barcelona. Mengapa hal yang sama tidak bisa terjadi di LFC?

Pulanglah ke Amerika! Dan hati-hati dengan sekuel nyata Texas Chainsaw Massacre!

Perginya Rafael Benitez dari LFC adalah kemenangan buat duo Hicks dan Gillet. Karena sekarang sudah tidak ada penghalang bagi mereka untuk menjual pemain.

Saga LFC juga tercermin dari buruknya penanganan direksi juga terlihat pada kejadian menyedihkan yang berujung pada pemecatan Benitez. Coba ingat sejenak, siapa yang mengumumkan kepergian Benitez? Martin Broughton.

Ya, Chairman LFC sekarang ini yang punya andil besar dalam pemecatan Benitez. Orang yang sekaligus fans berat Chelsea (Tuhan ampuni kami, pas penunjukan dia, gue langsung punya mimpi buruk di mana Fowler bergandengan tangan dan nyengir bareng Le Saux).

Di statemen awalnya, Broughton menyatakan bahwa dia ditunjuk dan tugasnya hanya untuk mencari calon pembeli dan mengawal proses penjualan klub. Ironisnya, dia juga menyatakan tidak mencampuri pembicaraan tentang masa depan Benitez.

Pada sebuah pembicaraan off the record dengan Charlotte Jackson seorang presenter Sky Sport (walau kemudian dibantah) Broughton menyatakan bawah proses penjualan LFC mungkin bisa lebih lama dari yang diharapkan. Bahkan lebih jauh lagi mengungkapkan bahwa mungkin Fernando Torres lebih baik pergi. Kemana lagi kalau bukan Chelsea? Brilian sekali tuan Broughton. Coba Ki Joko Bodo bisa bikin orang ga bisa boker setahun. Ga segan gue kontak buat nyantet si pengkhianat itu.

Ketidakpedulian mereka dibuktikan lebih lanjut lagi dengan tidak ada tenggang waktu yang pasti untuk mencari pengganti Benitez. Semoga Kenny Dalglish bisa tetap menjaga integritas dan kecintaannya pada klub. (Oh ya, kalian juga bisa lupakan soal manager top sebagai pengganti Benitez. Dengan kondisi klub seperti sekarang ini, siapa yang cukup sinting untuk melakukan itu?)

Sampai dua badut Texas itu pergi dari LFC, dan klub dijalankan oleh direksi macam Broughton atau Purslow, maka kita akan selalu menghadapi ketidakpastian.

Transformasi dari klub yang bangga dengan tradisi, jadi klub yang penuh sensasi. Periode ini bisa jadi adalah saat yang sangat menentukan masa depan LFC. Seperti senja pada setiap masa, akan ada malam yang merentang sebelum matahari terbit. Entah bintang keajaiban yang dimunculkan di kelam malam, atau mimpi buruk panjang saat kita lelap.

Cepat atau lambat, yang pasti, matahari akan muncul, dan dimulai era baru. Dan semoga, era yang lebih menjanjikan.

*PS:

Apakah LFC bisa diselamatkan? Gue akan jawab ya! Walaupun jalan kesana sangat berat. Kalau gue hanya bisa berjuang lewat tulisan, maka kalian yang  punya duit berlebih, mungkin bisa gabung dengan Spirit of Shankly. Syukur-syukur mau nyumbang banyak. Dari beberapa sumber yang gue baca, mereka sudah menyiapkan agenda untuk menyelamatkan klub dengan memanfaatkan beberapa celah di draft kepemilikan. Sedikit cercah harapan di masa kelam ini 🙂

YNWA!

Further Readings:

http://en.wikipedia.org/wiki/Liverpool_F.C.#Ownership_and_finances
http://www.liverpoolfc.tv/news/media-watch/stadium-construction-a-condition-of-liverpool-sale
http://www.shanklygates.co.uk/index.php?option=com_content&view=article&id=568:torres-may-be-better-leaving&catid=1:latest-news&Itemid=18
http://www.liverpoolfc.tv/news/media-watch/new-owners-will-not-saddle-club-with-debt
http://www.clickliverpool.com/sport/liverpool-fc/129030-gillett-and-hicks-increase-liverpool-fc-debt-to-%C3%823514million.html
http://www.liverpoolfc.tv/news/media-watch/stadium-construction-a-condition-of-liverpool-sale
Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s